Tempat wisata di Sukabumi berkonsep one stop vacation, inilah Situ Gunung

One Stop Vacations sangat tepat disematkan pada kawasan yang eksotis di Kadoedampit, dipunggungan barat gunung Gede-Pangrango. Kawasan wisata alam dengan danau Sitoe Goenoeng yang mitosnya dibuat oleh seorang bangsawan kerajaan Mataram yang bernama Rangga Syhadana, dalam legenda rakyat Sukabumi, secara perlahan tenggelam di tengah hutan belantara setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh kerajaan Belanda di tahun 1950, yang sebelumnya, ketika jalur kereta api dari Buitenzorg ke Soekaboemi di tahun 1882, wisatawan europe terutama belanda banyak menghabiskan liburan mereka di meer Sitoe Goenoeng.

Masa telah berganti, eksotisnya Situ Gunung tidak tergerus oleh zaman. Saat ini, kawasan wisata alam yang diperlengkapi oleh jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara ini dikelola dua lembaga pemerintah yakni Perum Perhutani dan Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), hal ini memperkuat citra Pesona Indonesia sebagai jamrud di khatulistiwa yang harus dilestarikan untuk generasi mendatang.

Di sebelah utaranya Gunung Gede Pangrango, tempat wisata alam dalam konsep One Stop Vacations dengan keindahan elemen air dan hutan, tengah menjadi tujuan liburan masyarakat Jakarta, itulah Kawasan Wisata Alam Curug Panjang dengan 5 pesona air terjun nan eksotis dan tempat berkemah dengan keindahan lansekap alam yang berpadu padan dengan lanskep buatan menjadi citra akan keindahannya.

Whatsapp

Baca Juga :
Jelajah Kawasan wisata untuk Minat Khusus

Situ Gunung;  Sejarah perkembangan kawasan wisata Sukabumi

Situ Gunung menawarkan pesona alam yang eksotis dengan Danau Situ Gunung yang tenang serta tidak ada jejak aktivitas vulkanik. Danau ini sungguh sangat menawan karena terjepit di antara tembok gunung yang tinggi dengan ketersediaan air yang cukup sepanjang tahun, yang jika di musim hujan mengalir melalui sungai. Danau Situ Gunung sebagai identitas penciri (marker identity) yang namanya telah berhasil merebut nama kawasan di punggungan barat daya gunung Gede Pangrango sebagai kawasan wiata alam. Lokasi saat ini berada kecamatan Kadudampit, kabupaten Sukabumi, namun satu abad di masa lampau di tahun 1888, danau (meer) Sitoe Goenoeng berada di district Tjimahi. Dan, di tahun 1888-lah sejarah piknik ke Situ Gunung dimulai, hal ini dapat terlihat dari kesan para wisatawan Eropa yang mengunjungi Sitoe Goenoeng pada tahun 1888.

Setelah dibukanya jalur kereta api dari Buitenzorg yang dikenal sebagai Bogor saat ini ke Sukabumi pada tahun 1882, arus wisatawan semakin banyak menuju Sukabumi, hal ini karena wilayah Sukabumi dianggap sebagai destinasi yang strategis dan ideal dibandingkan dengan Cianjur untuk wistawan yang datang dari Batavia (Jakarta) menuju Bandung. Dan, Sukabumi merupakan destinasi pendahulu sebelum para wisatawan menetap lebih lama di Bandung. Meski tidak ada catatan lebih terperinci (yang penulis baca), paling tidak bahwa area Situ Gunung sudah dikenal sejak lama, bahkan pada era Van den Bosch (1830-1833).

Pada tahun 1932 Wali Kota Sukabumi mulai mengambil inisiatif untuk membangun fasilitas perkemahan di danau Situ Gunung. Boleh jadi hal ini karena semakin meningkatnya minat orang muda untuk melakukan wisata alam dan semakin seringnya Situ Gunung dikunjungi oleh para wisatawan. Dalam perkembangannya di tahun 1934, area wisata di Situ Gunung tidak hanya dikelola oleh onderneming, Situ Gunung juga para sukarelawan klub-klub di beberapa kota berpartisipasi untuk turut membangun beberapa fasilitas seperti penginapan, bungalow dan bangun-bangunan untuk perkemahan.

Peresmian area wisata Situ Gunung ini dilakukan pada bulan Oktober 1934 oleh Bupati Sukabumi, dalam pembukaan ini diluncurkan sebanyak 160 buah rakit dimana penduduk dibebaskan untuk menagkap ikan (semacam ‘ngubek situ’), pada saat itu Java Pacific Film Comp mendokumentasikan kegiatan tersebut.

Dan, dilihat dari tepian yang tinggi, permukaan air danau tidak bergerak di kedalaman, tidak ada ikan yang berenang di atasnya dan tidak ada pula burung yang meluncur dengan ujung sayap menyambar ikan. (Kisah pelancong di surat kabar Java bode ; nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie ; edisi tanggal 28, 29 dan 30 November 1888).

Mitos dan Legenda Situ Gunung Sukabumi

Menurut cerita prosa rakyat (masyarakat lokal) Sukabumi yang sudah dianggap sebagai sebuah sejarah kolektif turun menurun dan diyakini kebenarannya oleh sebagian orang, Situ Gunung yang memiliki padanan dalam bahasa Indonesia adalah Danau yang berada di gunung, bukanlah sebagai danau alam yang dikenal oleh cendikia / kaum cerdik pandai dan kaum akademisi. Situ Gunung adalah danau yang sengaja di buat oleh seorang bangsawan dari kerajaan Mataram yang bernama Rangga Syhadana, yang lebih dikenal oleh masyarakat Sukabumi dengan julukan mbah Jalun.

Pada masa kolonial Belanda disekitar tahun 1800-an, Pria kelahiran Mataram ini melarikan diri dari kerajaan dimana tempat ia dilahirkan (tidak diketahui /penulis belum mendapatkan referensi penyebabnya), beberapa kesultanan di Jawa Tengah menjadi tempat per-sembunyian-nya, setelah itu ia tinggal di kesultanan Banten. Dalam perjalanan sebagai seorang pelarian/buronan, mbah Jalun singgah didaerah disekitar Kuningan di Jawa Barat, dan di Kuningan-lah ia menikah dengan seorang wanita berdarah sunda. Bersama dengan istrinya, lalu sepasang suami istri ini melakukan perjalanannya menuju arah Cianjur. Mereka melewati Gunung Gede Pangrango, sehingga akhirnya suami istri tersebut tinggal di sebuah lembah dikaki Gunung Pangrango punggungan sebelah barat daya di disekitar Sukabumi.

Masih menurut legenda masyarakat Sukabumi, sepasang suami istri yang menetap di lembahan kaki Gunung Gede Pangrango ini, pada tahun 1814 dikarunia seorang putra yang diberi nama Rangga Jaka Lulukanta. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan sang Pencipta atas kehadiran putra, mbah Jalum membuatkan sebuah danau dengan menggunakan peralatan sederhana, pembuatan danau yang saat ini dikenal sebagai Situ Gunung berlangsung selama 7 hari.

Semenjak itulah danau buatan mbah Jalun yang berada di kaki gunung Gede Pangrango dikenal dengan sebutan Situ Gunung, air danau tersebut bersumber dari air terjun Cimanaracun yang letaknya berada disebelah timur Situ Gunung.

Konon masih menjadi cerita masyarakat lokal Sukabumi, Jikapun kemarau, debit air Situ Gunung tidak pernah akan surut, namun akan sedikit berkurang dengan sendirinya ketika akan dibersihkan. Entahlah dibersihkan oleh siapa dan seberapa banyak surutnya ?. Didalam legenda terlebih mitos masyarakat akan ada banyak pertanyaan yang tidak harus dijawab, dan kendatipun engkau mencari jawabannya, itu akan cukup melelahkan, terlabih jika engkau bukan ahli sejarah untuk membuktikan kebenaran sebuah legenda.

Review Tempat Wisata di Sukabumi Jawa Barat dengan konsep One Stop Vacation

Ke-eksotis-an danau Sitoe Goenoeng telah merebut identitas penciri kawasan, nama Situ Gunung disematkan pada wilayah yang berada di punggungan sebelah barat Gunung Gede Pangrango sekaligus merujuk pada Kawasan Pariwisata Alam atau Taman Wisata Alam (TWA) di Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat.

Selain keindahan danau Situ Gunung yang namanya telah merubut identitas kawasan, pesona hutan hujan tropis yang merupakan jamrud di khatulistiwa ini dapat dinikmati secara utuh pucuk-pucuknya dari jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara, sebagian keindahannya dapat dinikmati ketika berjelajah dibawah tajuk tegakan menuju air terjun Cimanaracun dan curug Sawer. Dan, banyak pesona yang akan ditemukan dalam kawasan wisata alam yang berkonsep one stop vacation bergenre wisata alam ini.

Banyak fasilitas alam maupun buatan yang di hadirkan dalam kawasan Taman Wisata Alam Situ Gunung ini seperti teater alam, loop trail danau, wisma Situ Gunung yang memiliki 12 kamar berlatar danau dan  hutan, bale UKM, Galery, resto D’Balcony, obyek wisata Cinumpang, restourant dan yang terpopuler adalah jembatan gantung Situ Gunung yang diresmikan oleh  Menteri Koordinator bidang Kemaritiman. di maret Sementara itu fasilitas yang di hadirkan alam adalah hutan hujan tropis dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, air terjun, danau Situ Gunung dan banyak lainnya. 

Situ Gunung dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Taman Wisata Alam Situ Gunung merupakan salah satu pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, selain pintu masuk Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, dan Selabintana. Secara kewilayahan merupakan wilayah kerja Resort PTN Situgunung, Seksi PTN Wilayah IV Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi.. Kawasan ini merupakan zona pemanfaatan intensif Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang sebagian tofografinya kecil datar dan sebagiannya lagi besar, bergelombang sampai berbukit. Di kawasan Situ Gunung mengalir sungai Cigunung Guruh yang merupakan sumber air yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Beberapa kegiatan piknik yang dapat dilakukan di Taman Wisata Alam Situ Gunung Sukabumi berupa treking keliling danau sepanjang 1,9 km yang dapat ditempuh sekitar 4,5 jam, berwisata getek, berkemah, jelajah hutan, wisata air terjun, dan wisata berbasis petualangan, edukasi, dan wisata minat khusus lainnya.

Situ Gunung ; danau di gunung yang tidak ada jejak aktivitas vulkanik

Danau seluas ±21,97 ha dan ada yang mengatakan 3,5 ha yang berada pada ketinggian 1.100 m dpl dikelilingi oleh hutan hujan tropis dengan jenis pohon aslinya berupa puspa (Schima wallichii), rasamala (Altingia excelsa), huru (Persea spp), dls, serta pohon damar (agathis SP) yang terlihat kokoh di sepanjang jalan menuju kompleks danau yang ditanam di sekitar tahun 1940-an.

Situ Gunung Suspension Bridge ; Jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara

Jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara yang dibangun selama 1 tahun 4 bulan di pertengahan tahun 2017, membentang sepanjang 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, di ketinggian 121 meter di atas permukaan tanah ini telah menjadi icon pariwisata di sukabumi.

Jembatan Situgunung bermaterialkan kayu ulin dari Papua sebagai lantainya, Jenis kayu besi ini tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut, sifatnya berada di kelas kuat I dan kelas awet I yang mempunyai berat jenis 1,04. Struktur konstruksi yang kokoh dan konon dapat menampung berat hingga 55 ton ini menggunakan 5 sling sekaligus, yang umumnya jembatan gantung hanya menggunakan 3 sling, di kiri kanan jembatan dipasangi jaring kawat  dengan ukuran 4 mm dengan tinggi 1,2 meter.

Air Terjun dalam kawasan TWA Situgunung

Air terjun atau curug terbentuk dari aliran dataran tinggi seperti pegunungan melalui tebing atau bebatuan. di Taman Wisata Alam Situ Gunung terdapatCurug Sawer dan curug Cimanaracun yang merupakan ekosistem perairan yang memiliki fungsi ekologi, sosial dan ekonomi seperti curug pada umumnya. Curug tersebut dimanfaatkan sebagai penyedia air dan sarana rekreasi oleh pengunjung dan warga sekitar.

1. Curug Cimanaracun

Terletak dipinggiran danau Situ Gunung pada ketinggian 900 m dpl, dengan ketinggian terjunan airnya berkisar 15 meter, lompatan air terjun yang sebagiannya mengalir di relief-relief tebing bebatuan ini merupakan sumber air bagi danau Situgunung.

2. Curug Sawer

Agak ke sebelah timur dari danau situ gunung akan di jumpai air terjun Curug Sawer pada ketinggian 1.025 m dpl yang airnya berasal dari aliran Sungai Cigunung Guruh ini mengembun terkadang melahirkan pelangi, Curug Sawer memiliki keindahan yang sangat khas yaitu dindingnya di khiasi oleh bekas aliran lava vulkanik yang mengalir di ratusan tahun silam. Dinding curug sawer memiliki ketinggian sekitar ± 35 meter ditumbuhi lumut kerak yang khas menambah keindahan kompleks air terjun ini.

Bumi Perkemahan di Taman Wisata Alam Situgunung Sukabumi

Disebutkan bahwa Sitoe Goenoeng sangat menawan karena terjepit di antara tembok gunung yang tinggi, dan kunjungan ke Sitoe Goenoeng semakin santer, tidak sebatas wisatawan lone ranger tetapi juga wisatawan yang tergabung dalam asosiasi klub pencinta alam, klub berkemah dan sebagainya. Itulah sekilas gambaran aktivitas Sitoe Gunung yang santer diberitakan pada pemberitaan belanda sejak tahun 1913. Disini dapat diketahui bahwa jejak-jejak kegiatan berkemah di Sitoe Goenoeng sudah ada sejak jaman Belanda.

Camping ground di kawasan itu juga sudah berupa tanah lapang berumput yang datar sehingga nyaman untuk mendirikan tenda. Tak hanya itu, penerangan menuju sejumlah camping ground di kawasan tersebut pun sudah cukup baik, seperti Tanakita Camping Ground, Camping Ground Arben, Camping Ground Tepus, Camping Ground Bungbuay, Bumi Perkemahan Harendong, Caliandra Camping Ground, Camping Ground Bagedor. Sebagian besar nama bumi perkemahan di Situ Gunung diambil dari nama tumbuh-tumbuhan yang ada dinsekitar tempat camping.

1. Tanakita Camping Ground

Tempat Wisata Sukabumi – Yang membedakan camping ground Tanakita dengan tempat berkemah lainnya yang berada di ceruk antara Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dan dikaki gunung Salak serta kaki Gunung Gede Pangrango sebelah barat daya nya, adalah fasilitas berkemah nan nyaman yang dihadirkan dengan perpaduan sinergis antara pelayanan berbasis Adventure, berbalut dengan jasa akomodasi camping yang difasilitasi dalam kemewahan berkemah dialam bebas dan kaidah-kaidahnya adventure based yang memayunginya.

Penulis memandang bahwa kemewahan berkemah di Tanakita camp itu tidak identik dengan Glamping atau Glamorous camping yang banyak disematkan oleh publik (terutama pada informasi digital) pada Tanakita. Hal ini karena konsep Glamping dalam tinjauan sejarah tidak memasukan unsur adventure yang menjadi salah satu penciri dari camp Tanakita. Kemewahan Tanakita tidak sebatas pada fasilitas modern yang disajikan dalam akomodasi nya, namun disana ada fasilitas kemewahan alam yang berpadu padan dengan kemewahan akomodasi dan aktivitas yang berlandas pada adventure based. “Namun pandangan ini masih debatable dan dialektis”. (dikutip sesuai aslinya dari artikel berjudul ; Tanakita Camp; Camping ground bergenre Glamping di Sukabumi; 18 Juli 2020).

2. Camping Ground Arben

Bumi perkemahan Ground Arben diambil dari nama tanaman Berry atau lebih populer dengan sebutan Arben. Tanaman liar yang satu ini tumbuh diantara semak belukar, tangkainya berbulu dan berduri kecil. arben banyak dijumpai di hutan atau di gunung-gunung pada ketinggian diatas 1000 Mdpl. Camping Ground Arben berada dalam kawasan Wisata Alam Situ Gunung di sebelah barat daya Danau Situ Gunung.

3. Camping Ground Tepus

Tempat Berkemah dengan nama tumbuhan tepus ini berada di sebelah selatan danau Situ Gunung. Tumbuhan tepus yang bahasa latinnya Achasma megalacheilos ini memiliki banyak macamnya, seperti: tepus daun, tepus halia, tepurang merah, tepurang wangi, dan lainnya.

4. Camping Bungbuay

Ada dua buper Bungbuay, camping ground Bungbuay pertama berada di sebelah timurnya Danau Situ Gunung dan bumi perkemahan Bungbuay yang kedua berada di tenggaranya danau Situ Gunung, bersebelahan dengan Camping Ground Bagedor.

5. Bumi Perkemahan Harendong

Tumbuhan Senggani atau Harendong dalam bahasa sunda merupakan perdu tegak setinggi 0,5 m – 4 m yang bercabang banyak dan tumbuh di lereng-lereng gunung. Tumbuhan semak ini menjadi salah satu nama tempat kemping dalam kawasan Wisata Alam Situ Gunung. Camping Ground Harendong berlatar hutan, berada di bawah tegakan pohon Damar (Agathis SP) yang besar dan tua dan disekitar bumi perkemahan banyak ditumbuhi tumbuhan paku-pakuan 

6. Caliandra Camping Ground

Berada di barat daya jembatan Gantung Situ Gunung, Caliandra Camping Ground memiliki luasan area berkemah seluas 3.400 meter persegi, dan memiliki daya tampung 400 orang pekemping. Bumi perkemahan yang disekitarnya banyak di tumbuhi pohon Caliandra ini memiliki saung-saung bermaterialkan bambu dengan atap daun hatep.

7. Camping Ground Bagedor

Camping Ground dengan suasana memiliki kemiripan dengan Caliandra Camping Ground ini memiliki luas tempat mendirikan tenda seluas 700 meter persegi dengan kapasitas tampung s.d 200 orang, Camping Ground Badegor berada sebelah barat daya camping ground Caliandra di Resort PTPN Situ Gunung.

Baca Juga :
Review Highland Camp Curug Panjang Megamendung Puncak Bogor Jawa Barat

Resume Tempat Wisata di Sukabumi Jawa Barat berkonsep One Stop Vacation

Diketahui dari cerita turun menurun dan dokumen pemberitaan koran-koran belanda, pada tahun 1941 di Soekaboemi telah berdiri sebuah hotel dan restouran yang menggunakan nama Sitoe Goenoeng sebagai brand identity. Hal ini menunjukkan keberadaan Sitoe Goenoeng yang cukup populer sebagai kawasan piknik yang mengalahkan kepopuleran Lido dan Tjmelatie  dengan hotel en spa. Namun tidak lama setelah kemerdekaan, kawasan piknik kaum londa belanda itu menjadi gelap gelap gulita, tak berpenghuni, Sitoe Goenoeng menjadi sepi, sunyi dan sendiri.

Baru di era tahun 90-an, cahaya lampu sentir wisata Situ Gunung kembali memperlihatkan keindahan dibalik megahnya dua benteng alam yang menjulang tinggi. Hadir dengan tenda-tenda parasut oleh kelompok pencinta alam dan pramuka memperbanyak cahaya sentir wisata situ gunung yang semakin bercahaya. Hingga, saat ini sentir itu diperlihatkan oleh jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara, yang cahayanya menjangkau setengah Indonesia dan sebagiannya lagi asia,  europe dan lainnya.